Tuesday 16 June 2015

Mengenal Pilates

buenaforma.org

Saya mengenal pilates sekitar setahun yg lalu setelah dua tahun yg lalu saya kontrol ke dokter soal skoliosis saya dan direkomendasikan untuk ikut pilates. Saat itu dokternya merekomendasikan untuk pilates di Firmpoint Pilates. Setelah setahun kontrol saya baru inisiatif untuk mencoba pilates. Saya diharuskan untuk mengikuti kelas private karena medical problem dan harganya cukup mahal. Untuk satu kali sesi private harus mengeluarkan uang sekitar Rp 300.000,-. Saat itu saya mengambil 5x sesi private. Untuk setiap pengambilan sesi kelas, lebih banyak sesi akan dapat diskon. Beda dengan kelas reguler yg lebih murah. Mahal sih, tapi ya gimana namanya pengobatan karena menyembuhkan sakit emang gak boleh pelit.

Ketegangan Mabim Orad 2015! Superb!


Tidak ada rasa lebih lega karena telah selesai menunaikan mabim untuk adik-adik tersayang di mapala ini. Alhamdulillah telah terlaksana dg selamat semuanya. Mabim terdiri dari 3 rangkaian, yaitu mabim gunung hutan, tebing, dan olahraga arus deras (arung jeram). Saya tidak akan menceritakan secara detail mengenai mabim gunung hutan dan tebing, karena saya tidak ikut saat mabim gunung hutan serta mabim tebing hanya ngaping aja. Sedangkan mabim arung jeram saya yg bertanggungjawab. Yg jelas mabim kali ini berbeda sekali, tanpa Alfaris yg biasa menemani.

Mabim arung jeram bisa dibilang mabim terbangsat sih. Jadi ceritanya gini...

Monday 8 September 2014

Dewan Pengurus 2013-2014

PANTERA (Pioneer of Adventure and Rescue Association) adalah organisasi alam bebas di fakultas gue. Gue berminat masuk kedalam mapala ini saat gue menginjak semester 3. Telat sih emang. Tapi karena rasa penasaran gue yang amat tinggi, akhirnya gue daftar menjadi calon siswa dan disinilah gue dipertemukan dengan orang-orang tersayang gue di SAS (angkatan gue).. Gue gak ngerti banget soal mapala. Bener aja gue kaget pas lagi WAB (diklatsar). Ternyata gitu-gitu amat ya. Abis deh pokoknya, hahaha. Setelah gue ikut diklatsar, banyak pelajaran yang gue dapet, apalagi tentang alam bebas. Gue jadi seneng naik gunung dan arus deras. Kecuali panjat, karena gue gak begitu bersahabat dengan papan dan tebing. Gue jadi lebih senang mendalami dunia perjalan-jalanan. Gue jadi lebih fleksibel kalo jalan-jalan. Gak hanya ngider kota, tapi gunung lautan sungai lembah semua gue jabanin. Khususnya untuk sungai. Gue senang dengan ORAD (olahraga arus deras). Walaupun ilmu gue di ORAD masih sangat amat cetek, setidaknya gue mengerti basic dan gue ingin banget mendalami olahraga satu ini. Gue sempet ikut kompetisi dayung sampai jadi juri kompetisi arung jeram, dan kedua pengalaman itu sangat berharga bagi gue. Dibandingkan dengan divisi seperti gunung hutan dan panjat tebing, gue lebih prefer dengan ORAD.

Friday 5 September 2014

Dieng Culture Festival 2014

Udah lama banget gue pengen mampir ke Dieng. Mungkin sejak setahun yg lalu. Daaaan penantian itu akhirnya tiba. Gue berhasil ke Dieng! Selain itu, gue ke Dieng ada acara festivalnya. Yay!

Awalnya gue gak begitu excited dengan festival Dieng ini. Gue cuma tau infonya berlalu lalang di twitter. Tiket VIP habis. Dan gue biasa aja. Sambil nungguin kloter tiket dijual lagi, gue cari temen yg bisa dan mau gue ajakin kesana. Hasilnya? Gak ada yg pada mau ke Dieng. Gue yg mempunyai prinsip “mending pergi sendiri daripada gak pergi gara-gara gak ada temen”, akhirnya memutuskan untuk beli tiket dulu. Sisanya biar takdir yg menentukan.

Penjualan tiket dibuka. Gue niatnya mau beli kelas Festival aja. Lumayan murah. Tapi, entah mengapa kelas VVIP begitu menggoda. Gue yg harusnya mencet tombol Festival, banting setir dan memilih VVIP. Gue beli tiket, VVIP, gak punya temen pergi kesana, dan gak tau mau tinggal dimana. Pinter banget gak sih gue?


4 September 2014

Hari ini gue punya agenda ke Kantor Imigrasi di Jakarta. Dengan tujuan untuk mendaftarkan diri pindah kewarganegaraan (ngarep).
Sebelom berangkat gue nyetrika jilbab gue. Langsung gue cus ke terminal Cileunyi naik bis menuju Cililitan. Sesampainya disana, langsung menuju halte busway Kuningan Timur, ketemuan dengan kakak gue.
Di Kantor Imigrasi sempet ngeyel-ngeyelan sama petugasnya. Jadi, KTP gue kan Bontang, tapi gue bikin paspor di Bandung, terus ngurusin lagi di Jakarta. Petugasnya rada males gitu, jadi aja ngeyel sama kakak gue. Walapun ujung-ujungnya tetep diurusin sih.

Sunday 29 June 2014

Can't bite for a while...

Kemarin (28/6) gue emang berencana mau keliling Bandung. Mengurusi segala urusan untuk ngebenerin onderdil badan gue haha. Jadi rencananya adalah pergi ke tempat perawatan dan facial, kemudian ke BEC untuk meng-upgrade software hp gue, dan terakhir ke dokter gigi untuk kontrol kawat. Dan rencananya gue cus jam 9 pagi. Namun, ternyata ngaret karena gue baru balik dari Ciwidey jam 10 pagi! Ngapain ke Ciwidey? Jadi ceritanya gue abis gathering bareng juri rafting. Yang awalnya cuma kumpul di tempat makan aja, kemudian berlanjut berendam di Ciwidey sampe pagi. Selama perjalanan pulang gue ngantuk parah dan tepar sampai di kosan sampe jam 11an, lanjut gue mengeksekusi rencana gue.
Gue ke Bandung sendirian, naik motor. Wes byasaaaa.

Sampai di tempat perawatan, gue ngantri nunggu di panggil. Gue udah lama gak perawatan di tempat biasa. Terhalang oleh finansial yg dimana gue lebih memprioritaskan makan banyak dan enak daripada ngurus muka, hahaha. Gue pengen facial sebenernya. Tapi, pas di panggil gue cuma di kasih krim sama sabun cuci muka doang. Gak di panggil buat facial. Biasanya sih langsung disuruh facial. Tapi yaudalah, gue bisa saving beberapa duit gue untuk yg lain.

Tuesday 10 June 2014

Juri Kompetisi Arung Jeram

2 minggu yg lalu aku sempat jadi juri kejurnas arung jeram mahasiswa dan pelajar yg diadakan oleh menpora. Berawal dari mabim orad lalu diajakin jadi juri menpora cup 2014 di Garut.
Selama 5 hari aku stay di Garut. Mengikuti pelatihan hingga eksekusi jadi juri. Lumayan makan gratis dan teratur dari sarapan, makan siang, makan malam. Hahaha.
Disana aku bertemu banyak orang-orang gokil yg bisa buat aku jadi ikutan gila. Karena semakin hari yg makin petakilan, aku sukses bikin chief judge jadi fans aku (hahaha). Apalagi pas di DRR. Iseng beraksi di depan meja chief judge. Ceritanya ky lagi audisi gitu, dan aku dikasih 4 yes untuk jadi juri di Ciwulan Open 2014, yang diadain Juni ini, alias minggu ini!!!
Tapi sayang banget aku gak bisa ikutan karena bentrok sama uas. Sedih bet. Yakali ngorbanin uas, kapan ogut lulusnya?! Tapi sekaligus senang karena pada nanyain aku. Pada menanti kehadiranku jadi juri (pede bgt wkwk). Senang deh bisa bikin mereka senang kemaren pas di Menpora Cup 2014. Apalagi bisa meluluhkan hati para chief judge, terutama om Jojo dan om Black. Aku nanti pasti bakalan dateng. Numpang petakilan aja haha. Semoga disisihin kaos, pin, stiker Ciwulan Open 2014. Hahaha!!!
Luv kalian semua para juri dan chief judge Menpora Cup 2014!!!




Saturday 14 December 2013

Review: Everest, Beyond the Limit (2006)

Everest: Beyond the Limit adalah film documenter series yang digarap oleh Discovery Channel. Selain itu juga bekerjasama dengan Himalayan Experience, yg merupakan jasa guide ekspedisi di 8.000-ers pegunungan Himalaya, salah satunya adalah Everest. Himalayan Experience ini sudah menjadi jasa guide yg sangat profesional. Didirikan oleh seorang pendaki asal New Zealand yaitu Russell Brice, bekerjasama dengan Sherpa. Salah satu Sherpa kepercayaannya adalah Phurba Tashi,  yg kemudian menjadi chief Sherpa di Himalayan Experience.

Di Season 1 ini terdiri dari 6 episode. Menceritakan tentang ekspedisi dari orang-orang yg menurutku tidak biasa. Para pendaki ekspedisi di season ini adalah Mogens Jensen, Mark Inglis, Max Chaya, Tim Medvetz, Brett Merrell, Terry O’Connor, dan Gerard Bouratt. Sebelum lanjut, saya akan bercerita mengenai tokoh-tokoh ini.
Source: tomsky.de
Mogens Jensen, adalah seorang pendaki profesional asal Denmark. Denmark merupakan sebuah negara yang tidak memiliki gunung tinggi, dan hobi yang dilakoni oleh Mogens ini bisa dibilang luar biasa. Bahkan di negara asal yg tidak memiliki gunung tinggi, dia mampu melakukan pendakian hingga ke Everest. Mogens memiliki penyikit asma yg terbilang kronis. Penyakit tersebut tidak menghalangnya untuk mendaki gunung tertinggi di dunia, bahkan dia berusaha untuk melawan penyakitnya dengan cara melakukan summit attack tanpa menggunakan bantuan oksigen. (Also, he’s my favorite :p)

Friday 13 December 2013

Pantai Sawarna

sorry there are no photos here to make this story more interesting because the internet connection currently not stable. I will put some photos here after I got a stable connection. :)

Pantai Sawarna terletak di kawasan desa Sawarna, kecamatan Bayah, kabupaten Banten. Potensi wisata alam yang ditawarkan oleh Sawarna yang terkenal antara lain adalah Goa Lalay, Pantai Pasir Putih, Pantai Tanjung Layar, dan Pantai Laguna Pari. Yak! Aku pengen banget ke Sawarna. Setelah sekian lama, akhirnya terealisasi juga :) Trip kali ini aku pergi dengan teman kampus yaitu bersama Zikri, Indri, Ridho, dan Citra dari fakultas sebelah. Tema ke Sawarna adalah beach camping! Karena kami akan bertenda ria di pinggir pantai :D

Day 1 - Rabu, 8 Mei 2013
Rencana akan berangkat sekitar pukul 5 sore dari Terminal Leuwi Panjang. Tapi, siangnya aku harus ke DU dulu untuk menghadiri wisuda teh Anggi tercinta hihi, sekalian mengantar hadiah wisudanya. Karena macet, pas dateng taunya udah beres acara wisudanya. Ketemu teh Anggi bentar, ngasih hadiah, foto, langsung cus. Setelah dari teh Anggi aku menuju kosan Citra sambil beli beberapa ransum. Citra siap-siap, dan kemudian let's go to Leuwi Panjang menggunakan Damri kota. Dan ternyata, macet lagi sodara-sodara. Di Lw. Panjang udah ada Zikri, Ridho, dan Indri yang menunggu. Setelah sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Lw. Panjang dan bertemu dengan yg lain. Kemudian kami naik bis menuju Sukabumi dan kami menggunakan bis MGI.

Wednesday 11 December 2013

Mabim Gunung Manglayang

Sebelum memulai perjalanan, kami melakukan briefing dan persiapan terlebih dahulu. Sekitar jam 5 sore, kami berkumpul di basecamp SAS alias kos Randi. Mempersiapkan peralatan perjalanan, mengingat pelajaran navigasi, dan menyusun beberapa rencana. Kami memulai perjalanan ba'da maghrib. Menggunakan angkot untuk menuju ke lokasi. Sesampainya di perumahan sekitar bawah Gn. Manglayang, kami mampir sebentar ke tempat Abah Egi & Kang Tatang. Makan malam, sholat, dan berisitirahat sejenak sebelum memulai pendakian. Sekitar 1-2 jam kemudian, sekitar pukul 11 malam, kami memulai pendakian.


Mendaki di gelapnya malam adalah hal yg menyenangkan. Karena beban sedikit berkurang, maksudnya jalanan gak begitu tampak, which means tanjakan gak berasa berat hehehe. Cuaca juga nggak panas. Pemandangan city light & bintang yg bertaburan menjadi suntikan semangat. Sekitar 1 jam perjalanan, kami mulai memasuki kawasan hutan. Pohon rindang menyapa kami. Hingga akhirnya mendengar suara gemericik air dan kami berhenti untuk mendirikan bivak, memasak, dan beristirahat untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya.