Sunday, 17 December 2017

Solitude: Menikmati Kesendirian

pic source: collective-evolution.com

Bisa dibilang saya tipikal orang yang enjoy dengan kesendirian. Namun, bukan berarti saya kesepian, karena saya cukup senang melakukan interaksi dengan orang sekitar. Karena kesendirian (solitude) dan kesepian (loneliness) itu memiliki arti yang berbeda.

Saya sempat penasaran menyoal perasaan kesendirian ini. Karena memang saya kerap melakukan beberapa hal sendiri, bahkan saya menikmati itu. Sama sekali tidak merasa risih berjalan sendiri di ruang publik. Lalu, pikiran kesepian itu muncul. Saya mulai bertanya, apakah yang saya lakukan ini karena saya merasa kesepian? Apakah hal yang saya lakukan ini berdampak buruk?

Pertanyaan itu muncul karena saya merasa stigma masyarakat Indonesia (atau seluruh dunia?) menganggap orang yang menghabiskan waktu sendirian itu adalah orang-orang kesepian. Tidak punya teman hingga dicap sebagai orang aneh. Benarkah?

Sebelum bercerita lebih lanjut tentang kesendirian saya ini, saya ingin memberi penjelasan dari temuan Google soal kesendirian dan kesepian. Karena, kebingungan saya ini membuat saya penasaran dan ingin tahu lebih dalam tentang dua perasaan ini yang sama-sama berkaitan dengan 'sendiri'.
Loneliness is a negative state, marked by a sense of isolation. One feels that something is missing. It is possible to be with people and still feel lonely—perhaps the most bitter form of loneliness. 
Loneliness is harsh, punishment, a deficiency state, a state of discontent marked by a sense of estrangement, an awareness of excess aloneness. Loneliness is imposed on you by others.
Solitude is the state of being alone without being lonely. It is a positive and constructive state of engagement with oneself. Solitude is desirable, a state of being alone where you provide yourself wonderful and sufficient company. 
Solitude is a time that can be used for reflection, inner searching or growth or enjoyment of some kind. Deep reading requires solitude, so does experiencing the beauty of nature. Thinking and creativity usually do too. Solitude is something you choose.
 — Psychology Today
Nah secara garis besar, kesepian itu merujuk ke hal negatif dan merasa dirinya tengah terisolasi. Efek dari kesepian itu bisa menimbulkan pikiran buruk, seperti merasa tidak ada yang peduli dengan dirinya. Sementara kesendirian, melakukan berbagai hal sendiri tanpa merasa kesepian. Karena, kesendirian tersebut seperti melakukan bonding dengan diri sendiri. Bahkan, waktu sendiri yang dihabiskan itu mampu membuat pribadi menjadi lebih produktif.

Sejak kecil saya dididik untuk menjadi pribadi yang mandiri. Seperti, saat menduduki bangku TK saya sudah terbiasa pergi ke halte dekat rumah dan menaiki bus, saat SD dan ketinggalan bus di waktu pulang saya harus berjalan kaki (tak jarang sendirian) dari sekolah sampai rumah, mengurus KTP seorang diri, dsb. Tentunya semua itu saya lakukan dengan pengarahan orangtua, sisanya saya eksekusi sendiri. Kebiasaan itu terbawa hingga sekarang, hingga saya pun cukup akrab dengan kesendirian.

Saya jadi teringat waktu kuliah saya gemar sekali traveling. Saya tergila-gila dengan kegiatan itu, sampai berani mendaftarkan diri sebagai anggota pecinta alam kampus, sendirian tanpa mengajak teman (karena saya yakin enggak ada yang bakal mau). Selama melakukan traveling ke berbagai destinasi, sebagian besar saya lakukan solo atau semi-solo. Sungguh saya sangat menikmati masa itu. Karena, pergi dengan sistem soloing itu bukannya merasa sepi, justru saya mendapat banyak teman.

Selain traveling, ada berbagai kegiatan lainnya yang pernah saya lakukan seorang diri. Seperti makan sendirian di tempat ramai, nonton di bioskop sendirian, belanja ke mal sendirian, dsb. Menariknya, akhir-akhir ini justru saya semakin tertantang.

Jujur saja, kesendirian yang saya nikmati ini juga sebagai ajang melatih kepercayaan diri dan meningkatkan kreatifitas. Misalnya, saya sekarang sedang belajar fotografi. Saya tertarik memotret di ruang publik, khususnya fotojurnalistik. Memotret orang yang tidak dikenal kan cukup menyeramkan buat banyak orang, takut dimarahi atau apalah, termasuk saya pun merasakan hal itu.


Pernah saat pertama kalinya saya motret demonstrasi di Bandung, saya sok-sokan jadi jurnalis, padahal saya hanya rakyat biasa. Berbekal kamera dengan lensakit seadanya, saya maju ke depan para demonstran, blusukan, sampai naik ke atap angkot. Bahkan, saya atas inisiatif diri sendiri juga melakukan wawancara ke beberapa demonstran. Tanpa transkrip, saya langsung wawancara saja dengan pertanyaan spontan seputar demonstrasi yang terjadi.

Enggak cuma itu, sebelumnya saat aksi massa hari perempuan sedunia saya juga melakukan hal serupa. Bedanya, saya enggak hanya bertanya kepada para ormas. Sembari saya berjalan menuju pangkalan damri untuk pulang ke kosan, saya wawancarai beberapa orang yang saya lalui. Saya bertanya pendapat mereka soal hari perempuan, saya pun meminta izin untuk memotret mereka. Semua saya lakukan sendirian. Terlalu niat, ya?

Saya juga melakukan berbagai hal lainnya. Seperti olahraga bersepeda di sekitar Surabaya, jogging di lapangan olahraga, motret di suatu tempat hingga perkampungan, sampai nongkrong di kedai kopi sembari nulis blog ini (atau membaca buku), semuanya kerap saya lakukan sendirian. Saya menikmati waktu kesendirian itu dan jadi merasa lebih produktif, baik di ruang publik maupun di rumah. Nah, kalau di rumah, selain berselancar di dunia maya saya juga mengisi waktu dengan berswakarya atau membaca buku. Lumayan untuk refreshing sejenak.

Kesendirian yang saya lakukan itu bukan berarti saya menjauhi lingkungan sosial dan mengisolasi diri. Saya senang berinteraksi dan bersemangat kalau ngumpul bareng teman-teman. Apalagi kalau ngobrol tentang hal-hal yang menarik, bisa jadi saya berbicara sampai berbusa :p Hanya saja, saya punya porsi waktu untuk kesendirian ini.

Lalu, soal kesepian, sebagai manusia saya pun pernah merasakannya. Rasa kesepian saya pertama kali sempat muncul ketika waktu sekolah saya kena bullying dan terakhir saya rasakan saat kehilangan sahabat sekaligus partner saya tiga tahun lalu. Bisa dibilang, kehilangan itu menuntun saya terjerumus ke dalam rasa kesepian.

Kesepian yang saya rasakan itu sungguh menguras tenaga. Pikiran buruk dan macam-macam bermunculan di dalam kepala. Bahkan saat itu saya sempat mengisolasi diri di kamar beberapa hari, untuk menenangkan diri. Benar seperti definisi yang saya cantumkan tadi, kesepian itu adalah perasaan yang negatif, yang dapat menyakiti diri sendiri. Maka, tak jarang perasaan kesepian ini menimbulkan dampak stres, depresi, hingga keinginan untuk bunuh diri. Alhamdulillah, kesepian yang saya rasakan waktu itu tidak menimbulkan dampak tersebut. Saya hanya butuh beberapa waktu menyendiri saja.

Mengatasi perasaan kesepian ini tidaklah mudah, tergantung ketahanan mental pribadi masing-masing serta dukungan dari orang sekitar. Sedangkan saya sendiri cukup kuat melewatinya, tentu berkat dukungan orang terdekat. Kemudian hal ini menjadi pelajaran berharga buat saya. Saya jadi semakin lumayan legowo dalam menghadapi berbagai masalah atau bahkan jika kehilangan sesuatu. Saya pun teringat dengan salah satu kutipan yang saya temukan saat membaca artikel soal kesepian ini.

"Once you start losing a few things, it's easier to lose the rest so you can be left alone to think."  
Hayley Campbell, The Pursuit of Loneliness: How I Chose A Life of Solitude.

Usai melewati masa kesepian itu, saya mulai mengenal diri saya sendiri lebih dalam. Selain menjadi lebih produktif dan mengasah kreatifitas, kesendirian itu pula menjadi tempat untuk mengenal diri sendiri. Termasuk, saya akhirnya mengenal seorang Sari yang tengah menulis blog ini adalah gadis yang menikmati waktu kesendirian. And enjoying time alone is not a bad thing, as long as what you do is positive.




Cat.: Perlu diingat, orang yang merasa kesepian itu kadang tidak terlihat. Ada pula orang yang merasa kesepian terlihat baik-baik saja di depan orang lain, namun dalam hati tidak merasa hal demikian. Jadi, kita juga harus lebih aware dengan orang terdekat kita. Jika ada yang mengetahui kerabatnya sedang merasa kesepian, temani dan beri support. Karena dukungan itu sangat membantu orang tersebut untuk melawan perasaan kesepiannya. :)

-------

Sedikit Cerita: Solo dan Semi-Solo Traveling

Pertama kali solo traveling itu sekitaran tahun 2011. Saat itu saya ingin sekali mengunjungi Jogja. Bersama teman saya yang kuliah di IPDN, kami merencanakan kepergian ke Jogja dengan naik bus. Tapi, sehari sebelum waktu berangkat tiba-tiba teman saya membatalkan. Saking ngebetnya dan punya prinsip "kalau nunggu teman, kapan perginya?", saya memutuskan untuk pergi ke Jogja seorang diri.

Pagi-pagi saya langsung packing dan naik angkot menuju terminal Cicaheum. Membeli tiket bus on the spot. Duduk dengan seorang laki-laki. Selama perjalanan saya diajak ngobrol. Bahkan saat istirahat makan, orang ini ngajak makan bareng. Setibanya mendekati Jogja, pria ini mau turun. Dia sempat menawariku untuk tinggal sementara di rumahnya. Sebetulnya, saat kepergian saya itu saya belum tahu mau tinggal di mana. Selama perjalanan mendekati Jogja, saya baru browsing mencari penginapan di Jogja. Kembali ke tawaran pria itu, meskipun saya belum tahu tinggal di mana, saya enggak mau ambil resiko. Bukannya suudzon, tapi saya lebih memilih untuk mencari tempat penginapan sendiri daripada harus ikut dengan seorang yang enggak saya kenal. Cowok lagi.


Tengah malam di 0 KM Jogja.
Sampai di Jogja saya menghubungi teman dan kebetulan dia bisa menghampiri saya.

Sampai di terminal, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Saya langsung mencari ojek dan menuju ke lokasi penginapan yang saya temukan via internet (dulu belum ada Traveloka, bok). Karena saya lapar, enggak tahu mau makan di mana dan sendirian juga takut ribet lagi nyari ojek pulang ke penginapan (lagi-lagi jaman belum ada Gojek), saya ajakin bapak ojek makan sate di warung tenda pinggir jalan. Kami pun makan sambil ngobrol. :))

Sedangkan semi-solo ini, saya berinisiatif jalan ke suatu tempat tapi bergabung dengan travelers lain yang belum saya kenal. Istilahnya sharing trip. Paling berkesan itu saat saya dapat tiket pesawat super murah, Bandung-Bali PP Rp 90.000. Langsung saja saya beli, urusan pergi sama siapa belakangan!

Beberapa hari kemudian, saya unggah tulisan di salah satu thread forum. Bertanya apakah ada yang pergi ke Bali dengan tanggal yang sama dengan saya. Ternyata, ada yang menyaut. Kami pun bikin thread baru dan mencari 6 travelers lainnya yang mau bergabung ke Bali.

Hari keberangkatan, saya menyempatkan kuliah dulu paginya (tetap harus rajin meskipun harus ke kampus pakai carrier, lol!). Sepulangnya saya menuju ke Bandara Hussein untuk pertama kalinya. Sempat tanya-tanya teman cara menuju ke sana, tentunya versi hemat. Ternyata cuma naik Damri sama sekali angkot, enggak lebih dari Rp 10.000.

Travel partner selama di Bali

Setibanya di Bali masih harus menunggu selama lebih kurang 5 jam, sendirian. Saat menanti di depan gerai minimarket, saya enggak sengaja mendengar pembicaraan dua pria di samping saya. Mereka tergabung di organisasi pecinta alam. Saya pun inisiatif nimbrung, sambil menanti kedatangan rekan perjalanan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Cerita perjalanan selanjutnya di Bali dengan mereka? Menyenangkan!

Mungkin di tulisan berikutnya saya akan menceritakan beberapa pengalaman perjalan saya dulu. ;)

0 comments:

Post a Comment