Thursday, 7 December 2017

Perilaku Berkendara

Pic source: infokampus.news

Sebagai pengendara aktif, jalan raya Surabaya cukup membuat saya sedikit stres. Setiap berkendara di sini, rasanya saya enggak pernah absen buat memerhatikan sekitar, khususnya pengendara motor. Saya pun sampai bertanya dalam hati, apakah di jalan raya mengenal tata cara berkendara yang baik? Ataukah, memang benar aturan dibuat untuk dilanggar?

Rasa heran saya bermula dari lampu merah jalan raya. Garis putih horizontal dan vertikal yang terlukis di atas aspal tepat di bawah lampu merah seakan tak terlihat sama sekali bagi seluruh sebagian pengendara motor. Banyak sekali pengendara yang tidak peduli dengan garis putih itu. Bisa jadi para pengendara saking fokusnya dengan lampu merah, jadi selalu mendongak ke arah lampu daripada harus menunduk memerhatikan garis putih?

Pemerintah kota Surabaya belum lama ini mengeluarkan terobosan teknologi baru untuk menertibkan jalan raya. Pemkot menggunakan CCTV yang ditempel di atas lampu merah untuk memantau jalan raya, sekaligus menilang kendaraan yang nakal. Menurut informasi, setiap pengendara yang melanggar (melewati garis putih sebelum waktunya) akan terekam dan nantinya biaya tilang langsung dikirim melalui pajak lewat nomor plat yang tertangkap kamera. Lalu, apakah cara itu efektif?



Saya rasa tidak. Sebenarnya, banyak pengendara motor yang sebenarnya tidak peduli dengan garis putih, lampu merah, apalagi CCTV yang bentuknya sangat kecil bahkan nyaris tidak terlihat. Mereka hanya peduli pengendara lain yang berlalu lalang dari arah sebaliknya. Mereka hanya peduli, bagaimana caranya supaya cepat sampai tujuan.

Sering banget saya melihat pengendara motor yang bukannya melihat lampu merah menyala terang sebagai pertanda untuk berhenti, tapi malah celingukan kanan kiri melihat apakah ada kendaraan yang lewat. Jika jalanan kosong meskipun lampu merah menyala, mereka tetap akan mengegas motor. Yah jangankan tidak ada kendaraan, sekalipun ada kendaraan berlalu lalang, enggak sedikit pengendara yang tetap melaju meskipun berhati-hati. Banyak juga pengendara yang malah berhenti jauh melewati garis putih dan lampu merah.

"Buat apa berhenti? Toh masih bisa lewat."

Lampu merah juga seakan-akan menjadi garis start dalam perlombaan. Para pengendara motor pokoknya mau di depan. Walaupun ada garis putih sebagai tanda batas "porsi" tempat, seperti saya bilang tadi, garis putih hanya garis khayalan saja. Bahkan, enggak jarang para pengendara motor sampai bergerombol seperti lebah yang sedang berkumpul di bawah lampu merah.

Kadang, kasihan juga dengan pengendara lain, khususnya mobil, yang mau belok kiri (jika ada tanda belok kiri langsung). Karena ketutupan oleh para "lebah" yang enggak sabar menyambut lampu hijau. Sering juga berharap para pengendara mobil yang mau belok kiri dan terhambat ini menyalakan klakson sekencang-kencangnya. Supaya pengendara motor yang menghalangi jadi minggir. Eh, malah seringnya, para pengendara motor ini seperti tidak tahu apa-apa. Hanya menoleh dan melihat mobil. Kalaupun sadar diri, ya maju atau mepet ke kanan sedikit-sedikit.

Selain itu, saking inginnya berada di dekat lampu merah, pengendara motor sampai lewat pinggiran jalan. Mau itu trotoar atau tanah becek, dilewati. Yang penting di dekat lampu merah.

Ada juga kebiasaan yang kadang bikin saya kesal. Lampu hijau baru menyala sepersekian detik, pengendara sudah main klakson aja. Apalagi kalau yang nyalain klakson di belakang-belakang. Ibaratnya, banyak orang sedang mengantri, anda yang baru datang langsung mendesak agar segera maju. Padahal yang paling depan aja baru mau mengangkat kakinya untuk melangkah.

Memang apa yang ditakutkan dari lampu merah sih? Salah lampu merah itu apa? Sampai-sampai harus dihindari atau bahkan dijadikan "garis start". Kasihan si lampu merah. Padahal maksudnya baik, maksudnya adil. Supaya semua pengendara bisa berjalan tertib tanpa harus pusing melewati jalanan yang amburadul. Garis putih juga enggak kalah kasihannya.



Saya pernah merasakan lewat jalan raya tanpa kehadiran lampu merah. Lampu merah sedang tidak menyala. Wah, tingkat stres meningkat. Jalanan benar amburadul. Enggak bisa lewat sama sekali karena saking tertutupnya celah kendaraan yang mau ke sana kemari. Stuck.

Oh. Belum lagi soal trotoar dan zebra cross yang selalu "diperkosa" oleh pengendara motor. Mereka pasti beralasan "Kan enggak ada pejalan kaki yang lewat." Sekalipun ada pejalan kaki juga sepertinya tidak peduli.

Saya sendiri selalu berusaha untuk menjadi pengendara baik. Sok suci? Emang. Karena saya enggak mau berurusan sama polisi. Males banget. :(

Meskipun pernah sekali saya kena tilang gara-gara mau putar balik terus melewati marka jalan. Itupun sebenarnya tanpa sengaja, karena saya yang masih pengendara google map ini lalai memerhatikan jalan karena khawatir tersesat. Sebenarnya jangan diikuti. Kurang baik juga berkendara sambil menggunakan ponsel. Ini kalau sudah kepepet banget karena waktu itu saya belum hafal jalan ke kantor nun jauh dari rumah. :|

Perilaku Berkendara

Mungkin perilaku berkendara buruk memang sudah mengakar. Susah untuk diubah. Sama halnya seperti perilaku masyarakat Indonesia untuk membuang sampah pada tempatnya. Susah dibilangin!

Bagaimana jika seandainya saat membuat SIM, atau kalau perlu saat beli kendaraan, para pengendara diberi edukasi soal perilaku berkendara yang baik? Beli motor sekarang sudah kayak beli kacang. Bisa beli lewat cicilan. Semua orang dari berbagai kalangan sudah mampu beli motor. Tapi, apakah para calon pengendara ini paham betul soal berkendara? 

Lalu, apakah penting untuk memerhatikan perilaku berkendara? Menurut saya, jika bisa berkendara dengan baik, dapat mengurangi tingkat stres, baik untuk diri sendiri dan pengendara lain. Susah juga lho kalau mood sudah terganggu karena suasana jalanan. Bisa-bisa pengendara saling berantem. Selain soal mood, dengan perilaku berkendara yang baik juga bisa membuat suasana jalan raya menjadi tidak ruwet. Resiko kecelakaan juga bisa dihindari.

Jadi, yuk buat para pengendara mari kita perhatikan perilaku berkendara masing-masing. Lampu merah tidak perlu ditakuti, justru membuat jalanan menjadi mudah dilewati. Garis putih dibikin supaya masing-masing pengendara dapat porsinya dengan adil dan tidak menghalangi satu sama lain. Trotoar dan zebra cross ada untuk memfasilitasi pejalan kaki. Sudah diberi jalan raya yang cukup lebar, kok masih serakah nyerobot hak yang bukan milikmu? :)


-------

Sedikit Cerita: Kena Tilang di Surabaya

Surabaya kalau akhir bulan tuh polisi pada berjaga di jalan raya. Kalau kata teman saya, di atas tanggal 25 pasti polisi-polisi pada nongol. Sejujurnya ada sedikit suudzon sih, karena you know lah urusan uang sudah jadi rahasia umum. Hehe. Kebetulan waktu saya kena tilang itu akhir bulan. Banyak polisi di jalan raya.

Saya sebenarnya yakin saat proses tilang, kalau "bayar di tempat" pasti polisinya mau. Kelihatan dari gerak geriknya. Maksudnya, pak polisi enggak sigap banget nulisnya. Pakai basa-basi segala. Saya bersikukuh minta surat tilang. Jadilah saya dapat surat cinta berwarna biru yang tulisannya enggak jelas sama sekali. Waktu "sidang" saya dua minggu kemudian. Lama banget!

Waktu yang dinanti pun tiba. Pagi hari sebelum ke kantor, saya menuju ke Pengadilan Negeri untuk mengurus SIM. Saya kapok ditilang di Surabaya. Kenapa? Pertama, PN-nya jauh banget di ujung barat Surabaya. Kedua, jalan sekitar PN enggak begitu lebar padahal suasana ramai sekali, sampai bikin macet. Ketiga, cara pengambilan SIM-nya kayak antre sembako, tidak tertib.

Saat itu saya tiba di PN sekitar jam 8 pas. Karena saya pikir PN bukanya jam 8, jadi saya berangkat dari rumah jam 7. Perjalanan 1 jam! Ternyata sampai PN sudah ramai sekali. Saya diarahkan untuk menuju ke bagian belakang gedung PN. Semakin ramai saja, orang-orang sudah berkumpul di sana kayak lagi datang hajatan. Padahal di benak saya mengantrenya bisa rapi sambil duduk. Yah, semacam kayak menunggu giliran saat di bank. Perkiraan saya itu meleset banget.

Saya ikut berdiri di antara gerombolan orang-orang di bawah tenda biru. Lalu, ada bapak polisi yang muncul. Dengan suara lantang tanpa pengeras suara, polisi itu menyebut satu per satu nama orang. Memanggil giliran untuk membayar denda tilang. "Wah, harus pasang kuping bener-bener, nih," pikirku dalam hati.

Bukan lagi hajatan. Lagi nunggu panggilan untuk bayar denda tilang.

Saya kurang paham berapa orang yang datang, tapi yang pasti sangat ramai. Seratusan ada kali ya. Selama satu jam lebih saya berdiri dan memasang telinga agar tidak lalai ketika nama saya dipanggil. Akhirnya, nama saya pun disebut. Saya langsung angkat tangan dan bilang "Saya pakkk!"

Perasaan pun lega. Saya langsung menuju ke suatu tempat yang sebenarnya saya enggak tahu harus kemana karena enggak dapat arahan lagi untuk bayar denda tilang. Hasil tanya-tanya orang, akhirnya saya pun melipir membayar denda yang tempatnya masih berada diantara gerombolan para manusia pelanggar lalu lintas itu. Lagi-lagi sambil membayar denda saya harus menerobos sekumpulan orang yang menanti namanya dipanggil.

Kemudian, saya menyerahkan kertas saya. Saya disebut melakukan pelanggaran ringan dan saya didenda sekitar Rp 48.000 kalau tidak salah ingat. Lumayan, lah. Enggak begitu mahal. Saya kira malah sampai Rp 80.000. Bukan masalah uangnya yang memberatkan saya kena tilang. Tapi, proses "sidang"-nya itu yang bikin saya kapok.

Setelah berhasil menjemput SIM, saya bergegas ke kantor dengan kondisi sudah bau badan karena keringatan. Hasil dari berdesak-desakan "sidang" untuk mengambil SIM.

Yeah right, "sidang".

0 comments:

Post a Comment