Monday, 4 December 2017

Berani Bodoh


Hari ini saya membuat keputusan sangat bodoh, menurut orang lain. Ya bagaimana enggak bodoh, sudah punya hidup enak tapi malah memilih untuk hidup susah. Setidaknya itulah gambaran keputusan saya ini. Tapi, bagi saya ini adalah keputusan yang membutuhkan keberanian besar. Saya pikir, hari ini saya berani menjadi bodoh.


Saya lulusan lambat dari universitas ternama di Bandung. Lulus telat kalau orang-orang bilang, apalagi mentok tujuh tahun. Wah. Jangan ditanya pandangan orang lain gimana. Mulai dari waktu skripsian jadi bulan-bulanan banyak orang. Beres kuliah pun masih harus tahan banting menghadapi pertanyaan orang-orang seputar kampus.

Cukup beruntung saya menganggur hanya satu bulan semenjak dinyatakan lulus dari kampus. Entah beruntung atau sekedar kebetulan. Gimana enggak, baru sekali diundang tes dan wawancara saya langsung lolos jadi karyawan. Ya memang meskipun bukan perusahaan besar, tapi setidaknya saya sudah punya pekerjaan.

Tapi, ada yang salah dengan diri saya ketika mencoba untuk tinggal di Surabaya. Saya tidak nyaman tinggal di sini. Pun dengan lingkungan kerja saya.

Kurang dari satu bulan saya merasa tidak sreg dengan kantor tempat saya bekerja. Saya tetap bertahan karena saya pikir mungkin saya akan terbiasa. Nyatanya, tetap tidak bisa. Ini bukan pekerjaan yang saya inginkan meskipun saya bersyukur bisa bekerja sebagai penulis berita. Ditambah lagi dengan rasa tidak kerasan saya tinggal di sini.

Ada beberapa alasan yang membuat saya kurang betah di Surabaya. Pertama, belum punya banyak teman yang membuat hidup saya menjadi sangat membosankan. Cukup stres sejujurnya. Kedua, tidak punya jaringan yang membuat saya tidak punya wadah untuk belajar di sini. Berbeda dengan Bandung dimana saya punya kawan jago fotografi hingga kegiatan outdoor sehingga saya bisa belajar dari mereka. Ketiga, keinginan untuk berjuang menjadi jurnalis. Di Surabaya saya sudah lamar ke kantor media sebagai jurnalis tapi sepertinya belum rejeki, saya enggak dapat panggilan sama sekali haha. Too bad. Maka dari itu, saya harus coba di tempat lain. Keempat, Bandung itu sejuk dan menyenangkan. Karena Bandung bukan rumah saya, maka saya gunakan kesempatan masa muda ini untuk menghabiskan waktu sementara di kota yang menyenangkan ini.

Keinginan mengundurkan diri dari kantor kemudian makin hari semakin besar. Lalu, lagi-lagi orang-orang sekitar menyayangkan jika saya harus melepas pekerjaan. Wajar aja. Lulusan lambat kayak saya langsung dapat kerja kan suatu keberuntungan bagi mereka. "Nyari kerja itu susah!

Apalagi hidup saya sudah enak banget di sini. Fasilitas aman dan nyaman. Cuma mikirin perut aja, enggak usah takut kepanasan dan kedinginan saat tidur. Sedangkan, kalau saya tinggal di Bandung, harus keluar biaya ngekos, enggak ada kendaraan pribadi. Nganggur pula karena belum dapat pekerjaan. Cukup luntang lantung, kan. Bodohnya saya malah pengen begini. Enggak habis pikir saya sama diri sendiri.

Lalu, keputusan bodoh yang saya lakuin hari ini apa? Yak, benar. Saya mengundurkan diri dari kantor dan siap hidup luntang lantung di Bandung.

Tentu saja tidak sekedar bodoh. Perlu modal untuk kebodohan satu ini, yaitu keberanian. Hari ini untuk pertama kalinya saya mengajukan pengunduran diri di kantor saya bekerja. Momen yang harus saya ingat. Masuk ke ruangan atasan saya aja sebenarnya deg-degan. Setelahnya, menyesal dikit banyak leganya.

Kejadian itu cuma sebagian kecil dari porsi keberanian yang saya keluarkan. Porsi besarnya adalah keberanian untuk menantang dunia dimana pengalaman kerja lulusan lambat ini cuma dua bulan doang. Ditambah lagi mau tinggal di kota orang. Walaupun pernah tinggal di sana, sudah pasti akan jauh berbeda. Saya harus bisa menghidupi diri saya sendiri. Saya juga enggak tahu gimana kehidupan saya nantinya di sana.

Satu hal yang pasti, saya siap menghadapi resiko kebodohan saya ini dengan keberanian.

0 comments:

Post a Comment