Monday, 26 January 2015

Alfaris Novian

"Tidak ada yang tidak mungkin kecuali makan kepala sendiri" 

Alfaris Novian. Aku mengenalnya kurang lebih 2 tahun yg lalu, tepatnya pada tahun 2012, saat aku mengikuti sebuah organisasi pecinta alam di FISIP UNPAD. Sesosok lelaki berkulit sawo matang, berkacamata, kurus tapi kekar, dan gondrong. Dia Komandan Lapangan-ku saat aku di diklat. Dia sangat menyebalkan waktu itu.

Setelah diklat, pertemanan kami dimulai. Tidak lagi hanya sekedar senior dan junior (walaupun sebenernya kami satu angkatan, tapi beda angkatan di mapala). Awal mula ngetrip saat ke Batu Karas, Pangandaran, akhir tahun 2012, bersama teman-temanmu. Memang saat itu kita berteman, tapi aku merasa lebih dari itu. Bagiku, dia adalah seorang kakak yang mengayomi aku dan angkatanku. Karena angkatannya, Jalu Bara (terutama dia sebagai Danlap) yang telah menciptakan kami angkatan baru dibawahnya, Sapta Arum Saroja.


Pertengahan tahun 2013, tepatnya bulan Maret-Juli, dia dan Nanang (salah satu anggota Jalu Bara juga) pergi mengikuti Ekspedisi NKRI di Sulawesi. Sedih sih, tapi kita tetap berkomunikasi untuk menanyakan kabar dan situasi. Dia sempat mengucapkan selamat ulang tahun saat menanyakan kabar Musyawarah Adat di mapala. Saat dia kembali ke Jatinangor, aku sedang KKN. Tidak bisa langsung bertemu. Setelah lebaran, dia langsung pergi bertualang ke Rinjani, sedangkan aku pulang ke Bontang. Tapi, tetap berkomunikasi. Aku memantau dia. Selalu menanyakan posisi dan kabar.

Persiapan WAB ke VII. Angkatan SAS dan JB bekerjasama untuk membentuk angkatan baru dibawah kami. Aku semakin dekat dengan dia, karena kita sering survey berdua. Mungkin karena kosan kita yg berdekatan dan satu arah jadi sering bareng. Aku ingat banget saat survey kita sering ngobrol ini-itu. Keluarga, drama percintaan, pertemanan, hingga segala mengenai outdoor. Pulang survey, kita sering keliling toko outdoor, walaupun hanya sekedar melihat-lihat. Kebetulan aku emang pengen beli carrier, dan belinya sama dia. Berghaus Freeflow yang aku beri nama Baby. Dia juga sempat beli daypack Deuter Futura 28 berwarna biru yang aku beri nama Dubur (Deuter Biru), hahaha. Pokoknya semenjak sering survey, kita jadi dekat. Aku mulai menganggap kamu sebagai sahabat aku.

Saat WAB VII, aku ngaping long march pergi. Dia mobilisasi dg motor trail, nampak keren. Kita saling berkoordinasi. Tidak lupa dia mengingatkan untuk makan dan semangat. Selama di lapangan kita sering bersama. Seperti saat mendampingi materi ke siswa, ngaping berdua saat materi SAR dg siswa, ngaping longmarch pulang bersama yg lain, hingga ngaping malam berdua.

Setelah WAB VII, dia pergi KKN. Aku bertualang ke Banyuwangi. Kita saling berkabar. Dia ingat kapan aja jadwal aku bertualang dan selalu menanyakan posisi. Awalnya kita sering smsan, lama-lama intensitas berkurang sedikit. Mungkin dia sedang cinlok. Ternyata bener, haha. Setelah pulang dari KKN, dia sering smsan banget, sampe aku ngomong dicuekin. Udah gitu, sering muterin lagu dan gegitaran galau. Dia gak pernah cerita, yaudalahya.

Bertemu lagi Februari 2014. Kita ngaping mabim gunung hutan angkatan muda ke Gunung Tangkuban Perahu. Pulangnya, dia jadi sweeper. Berjalan di belakang aku. Entah kenapa aku suka saat hiking ataupun trekking dia berjalan di belakangku. Mabim tebing, aku kabur. Saat aku ulang tahun, dia lupa. Kemudian aku merayakan ulang tahunku ke Jogja. Disana bertemu dg seseorang yg mengalihkan duniaku (lebay dikit). Gatau kenapa, aku gak cerita ke dia soal ini. Biasanya aku cerita ina ini ita itu, tapi yg ini nggak. Sampai akhirnya dia tau saat memegang hpku yg wallpapernya foto aku dan seseorang itu. Lalu, bertanya dan ingin aku bercerita tentang dia.

Entah kapan, aku ingin minta ditemenin ke bank untuk benerin kartu dan nyari daypack. Dia kebetulan juga ingin ke sekre W untuk mendaftar PDW dan mengambil formulir pendaftaran. Di jalan ada yg mengganjal. Gak ada rambut yg terurai dari dalem helm. Ternyata dia potong rambut!!! Epic banget! Aku yg biasa ngelihat dia dg rambut gondrongnya jadi aneh banget lihat dia. Terlihat rapi...dan beda. Beda dalam arti yg bagus ya, seperti...lebih kasep gitu haha. Setelah ambil formulir kita makan di warung Kang Afif, tapi tuan muda sedang tidur. Jadi kita ngobrol berdua aja sambil menyantap bakmi jawa. Sesaat dia ragu, jadi daftar PDW apa ngga. Dia udah ngincar W sejak awal kenal. Dengan impian yg tinggal selangkah lagi, aku sedikit ngomel ke dia karena dia ragu. Ragu meraih impiannya. Impiannya adalah mendaki gunung es. Terutama Gunung Jayawijaya dan Gunung Everest. Untuk mencapainya, sangat susah didapat melalui mapala fakultas karena kami belum sebesar W yg anggotanya sudah mendaki 7 Summits. Jembatan untuk mendapatkan impiannya adalah melalui W tersebut. Setelah obrolan sedikit panjang, akhirnya dia kembali optimis untuk mendaftar.

Sebelum dia sibuk mempersiapkan PDW, aku ngajakin main ke pantai. Awalnya mau ke Pantai Sawarna. Tapi, karena akses transportasi yg ribet dan jauh, dia nawarin pergi ke Pulau Tidung. Perjalanan yg random di bulan puasa. Pergi bertiga dg Arif. Sampai pelabuhan ternyata kapal cuma satu, jadilah kita nginep di pelabuhan bareng seorang turis asal Tiongkok yg kemudian gabung dg kami. Rencana awal yg mau camping, jadinya nginep di homestay karena pertimbangan penginapan yg lumayan murah. Untung aja jadinya nginep di homestay, karena malemnya hujan badai! Ke Pulau Tidung adalah trip pertama kita, karena kita berdua yg merencanakannya.

Persiapan PDW, aku bantuin dia. Dg sukarela memberi sponsor. Kesana kemari nyari alat. Memperhatikan bawaannya yg ribet dan berat. Hingga tiba saatnya dia ke lapangan. Saat pelepasan aku ngga dateng karena kesiangan hehe. Gak nyangka dia sms bilang kalo dia nungguin aku dateng ke pelepasan PDW. Sempet ngerasa bersalah sih. Tapi, aku janji bakalan dateng ke penutupan PDW.

14 hari lost contact. Tepat saat malam Musyawarah Adat (lagi) tiba-tiba kamu sms. Sedang recovery selama 12 jam. Menanyakan kabarku dan mudat. Sekaligus minta disamperin sekalian nganterin sepatu cheko pesanannya, karena sepatunya dia jebol. Pagi-pagi pulang dari Mudat, aku istirahat bentar sambil nunggu kabarnya dia. Setelah itu langsung pergi ke Bandung dg Pinky, motor kesayangan dia. Sempat kaget ngelihat dia karena jadi kurus. Tapi, dia tampak optimis. Aku dan Yasmin duduk merhatiin dia sibuk packing barang. Sejam kemudian dia pergi dg teman-temannya untuk kembali menuju ke Siliwangi. Meneruskan PDW.

Seminggu sebelum penutupan PDW, aku lagi galau hebat (agak lebay sih). Karena lagi patah hati. Yg aku ingat pertama kali adalah dia. Aku ingin curhat ke dia. Ingin mewek ke dia. Tapi, apa daya dia lagi di lapangan dan gak bisa dihubungin. Mau cerita setelah PDW palingan udah basi.

Hari penutupan PDW. Aku datang sejak pagi. Menanti barisan AMW. Menanti dia. Aku pengen ngasih bunga, tapi karena di Tangkuban Perahu gak ada yg jual bunga, adanya kaktus, jadi aku beliin dia kaktus. Selesai upacara pelantikan, aku langsung masuk ke barisan AMW, nyariin dia. Ketemu, dan aku langsung meluk dia. Karena saking senang dan terharu, dia akhirnya masuk W seperti keinginannya. Dg kondisi sehat, walaupun bulukan. Setelah melepas pelukan, ternyata ada ayahnya berdiri disampingnya. Aku jadi ngga enak... Meluk anak orang didepan bapaknya. Bayangin!! Tapi gak peduli sih langsung salaman sama ayahnya aja. Aku ngasih kaktusnya ke dia. Ngobrol sebentar. Lalu, AMW harus dimobilisasi untuk makan siang. Aku berdiri di belakang barikade anggota W, nunggu dia lewat dan nggak melewatkan untuk memotret dia.

Seminggu setelah PDW, kita baru ketemu karena dia pulang ke Bogor. Ketemu lagi kita main ke Bandung. Sebelumnya nemenin dia ke koperasi W beli barang-barang W. Sambil memilih kemeja, tiba-tiba dia nanya hubungan aku dg seseorang, masih apa ngga. Aku bilang udah ngga. Pengen cerita juga udah basi kan, jadi aku jawab singkat gitu aja. Tapi, ujung-ujungnya cerita juga sih. Galaunya sampe kapan dah itu. Terus dia ngajakin main ke Curug Cileat. Pergi dari Lembang ke Subang lewat Gunung. Awalnya aku ngebet pengen ikutan.

Pas hari H pergi ke Curug Cileat, aku uring-uringan. Males. Lagi gak enak punggung. Aku SMS bilang gak jadi ikutan karena punggung lagi gak enak. Dia bales SMS panjang tapi gak aku bales. Dia SMS berkali-kali. Karena lagi males, HP aku flight mode. Saat udah ngawang pengen tidur, tiba-tiba dia dateng ke kosan gedor kamar. Maksa aku buat ikutan. Sampe niat mau bawain barang-barang aku. Jadilah aku ikutan. Dg catatan aku cuma bawa barang-barang pribadi aja, hehe.

Awalnya yg niat hanya 2 hari, meleng jadi 4 hari karena sempat nyasar. Selama perjalanan aku sering diam, karena masih galau. Ternyata dia merhatiin, dia nanyain aku kenapa dan harus cerita pas lagi ngecamp. Selama perjalanan itu, aku jadi ngerasa deket banget sama dia. Di dalam tenda kita selalu tidur sampingan. Aku merasa aman dan nyaman tidur disampingnya. Terasa lebih hangat.

Pulang dari perjalanan tersebut, kita semakin lekat. Bahkan menyatakan perasaan masing-masing. Sekedar menyatakan aja, tanpa ada kelanjutan hubungan yg lebih. Biarkan kita seperti ini. Layaknya sahabat dan sepasang kakak adik yg saling melindungi. Ada persaan insecure, itu pasti. Karena kita yg sangat dekat, jadi aku nggak canggung bilang ke dia.

Semenjak jadi AMW, hampir setiap minggu dia pergi ke lapangan untuk latihan. Rasanya cemas. Seperti lagi ditinggal ke medan perang. Sebelum dia pergi ke lapangan, aku selalu menyempatkan SMS. Walaupun hanya sekedar mengingatkan untuk terus semangat dan gak lupa untuk jaga kesehatan.

Tahun baru kita merayakannya hanya berdua dg mendaki Gunung Burangrang. Malam pergantian tahun, kita hanya duduk di tenda sambil meminum cokelat hangat, mendengarkan bunyi kembang api, serta rangkulan hangatnya dia yg lalu mengucapkan "selamat tahun baru, Din." Semalaman kita berbicara tentang target tahun 2015. Target kita sederhana, pingin wisuda. Udah itu aja. Wisuda bareng.

Keesokannya kita bangun kesiangan. Gercep dan langsung ke puncak. Gunung sudah hening. Tidak ada siapa-siapa selain kita berdua. Di puncak pun, kita hening. Sejenak beristirahat. Beberapa menit kemudian kita langsung turun. Mengejar sore. Takut gak kebagian angkot. Ujung-ujungnya longmarch sampe ke terminal angkot....

Pulang dari Gunung Burangrang, dia sibuk mempersiapkan rangkaian AMW lagi, yaitu Sekolah Esar. Luar biasanya, saat tes fisik dia lolos hanya sekali putaran. Padahal dia habis turun gunung dan malamnya bergadang. Sempat ngerasa aneh sih.

Hari H Sekolah Esar. Aku nganterin dia ke Siliwangi. Sebelumnya kita sarapan. Di perjalanan ngobrol sedikit. Gak terasa udah sampai di depan Siliwangi. Suasana udah sepi, karena telat. Mungkin pesertanya udah pada di dalam gedung. Dia melepas helm, ada yg beda. Tatanan rambutnya beda, dia terlihat ganteng. Aku nanya, dia jadi potong rambut apa nggak, kok beda. Dia jawab, belum potong rambut, poninya turun karena helm jadi beda. Aku selalu suka ngelihat dia menggendong carrier. Terlihat gagah. Semakin tampan mengenakan kemeja. Dia sibuk ngaca, mengangkat carrier, dan memastikan ngga ada yg tertinggal. Aku sibuk memperhatikan dia, wajahnya. Aku selalu suka gerak-geriknya. Kita mengucap perpisahan. Aku nggak sabar untuk ketemu dia hari Jumat di Bukittunggul. Perpisahan yg singkat. Dia berjalan pergi meninggalkan aku. Aku sejenak diam memperhatikan langkahnya. Berharap dia gak jadi pergi. Tapi, gak mungkin sih. Lalu aku memutar Pinky, dan kembali ke Jatinangor.

Dia sempat SMS, nanya aku lagi dimana. Memastikan aku udah kembali ke kosan. Malemnya kita masih berkomunikasi. Dia sempat bercerita lagi materi dan sedang melakukan perencanaan operasi SAR. Aku lagi di Bandung, menjelang tengah malam belum pulang. Sesampainya dikosan, aku ngecek HP. SMS aku nggak dibales lagi. Terakhir dia SMS bilang hati-hati ke aku. Takut besok dia udah ke lapangan dan gak ada sinyal, jadi malam itu juga aku SMS sekedar bilang untuk jaga kesehatan dan semangat. Seperti biasa. Walaupun nggak ada balasan, yg penting pesan aku sampai dan pasti dia baca.

7 Januari 2015
Aku turun dari lapangan. Niat untuk belanja kebutuhan konsumsi di lapangan. Tapi menyempatkan diri untuk pulang ke kosan dulu, bersih-bersih. Di kosan aku dapat telpon dari temenku.

"Sar, udah tau kabar Pais belum?"
"Dia kan lagi di gunung"
"Pais meninggal..."
"Pais siapa.....?"
"Pais siapa lagi?! Temen kita yg namanya Pais kan cuma satu"

Aku lemas.
Belum tau kabar pastinya, aku udah nangis.
Panik langsung nyari nomer anak-anak W yg aku kenal. Semuanya gak bisa dihubungin.
Hari itu sangat sangat genting. Mencoba meyakinkan diri kalau yg meninggal bukan Alfaris Novian.

Hingga akhirnya aku percaya saat sedang menelpon temenku yg lagi di sekre W untuk menanti kedatangan mobil jenazah. Aku mendengar sirine itu. Temanku langsung menutup telepon, kemudian SMS. Kurang lebih bilang kalau temanku sedang menuju ke Bogor, bersama jenazahnya. Jenazah Alfaris Novian.

Dari sore hingga malam aku nggak bisa nahan air mata. Gimana aku bisa percaya? Terakhir aku ketemu dia, dia nampak sehat. Nggak ada tanda-tanda sakit.

Aku memohon ke ketua mapala aku untuk izin pergi ke Bogor. Melihat dia untuk terakhir kalinya. Malam itu aku langsung pergi kerumahnya, bertiga dg temanku.

Saat kerumahnya, suasana udah sepi. Aku duduk disampingnya. Dia udah diselimuti dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sudah terkafani. Diam. Tidak bergerak. Sama sekali. Malam itu, sambil bercerita dg ayah dan ibunya. Ayahnya masih ingat aku, karena sempat ketemu di penutupan PDW. Aku disuruh nginap oleh ayah dan ibunya. Malam itu aku duduk disampingnya hingga subuh. Rasanya sedih banget. Semua terjadi begitu cepat. Aku belum siap ditinggalin dia :'(

Kemudian aku istirahat di kamarnya. Ketiduran karena isak tangis. Pagi aku bangun dan langsung ke bawah. Semakin sedih ngelihat dia yg diangkat untuk dibawah ke masjid. Aku hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Kemudian pergi makamnya. Menanti orang-orang selesai berdoa untuk menunggu giliran doa di dekat makamnya. Aku duduk. Berdoa dalam hati sambil menahan tangis, walaupun ujung-ujungnya nangis juga sih. Aku sedih banget. Sedih sesedihnya. Aku udah ngga bisa ketemu dia lagi. Selamanya.

---

Alfaris Novian.
Dia yg sering menanyakan posisi gue ada dimana. Hal pertama yg dia tanya bukan gue lagi ngapain, tapi lagi dimana.
Dia yg selalu mengingatkan agar gue selalu berhati-hati, fokus, dan waspada.
Dia yg paling kesel liat gue nangis, terus ngomel, tapi selalu menyeka air mata gue dg lembut.
Dia yg mengajarkan gue banyak hal dan ilmu. Baik tentang kehidupan, ketegaran, dan alam bebas.
Dia yg merawat gue dikala gue sakit.
Dia yg berjalan dibelakang gue saat trekking. Mengejar gue saat gue jalan cepat.
Dia yg cuek, tapi selalu memperhatikan dg diam. Yg selalu menuntun gue untuk mandiri dan inisiatif.
Dia yg bertanya gue kenapa dan maksa gue untuk cerita saat gue diam dan gak banyak omong.
Dia yg meluk gue di tenda kalo gue mulai gemetaran menggigil kedinginan.
Dia yg ngehukum gue push up pas dikasih materi terus salah. Padahal yg lain gak di hukum.
Dia yg gak suka kalo gue dikosan terus seharian.
Dia yg tegas.
Dia yg kalo ngomong gak filter.
Dia yg suka ngelap tangannya ke pakaian gue setelah makan gorengan.
Dia yg manggil gue Didin.

Terima kasih atas segala-galanya.
Maafin aku yg belum membuatnya menjadi pribadi yg lebih baik.
Aku akan merindukannya. Akan selalu merindukannya.
Insya Allah doaku untuknya nggak akan pernah putus.
Sudah saatnya dia istirahat, dan aku harus bisa hidup mandiri tanpanya.
Aku pasti bisa tegar tanpanya, karena seperti apa yg sering dia katakan padaku, "Tidak ada yg tidak mungkin kecuali makan kepala sendiri"

Selamat istirahat, Komandanku.
Aku akan selalu kangen kamu, Vi.


0 comments:

Post a Comment